News

Catatan Ringan, Kemenangan Genius-Mardison di Pilkada Pariaman 2018

ayokepariaman.id-Pilkada Pariaman usai ditabuh, Rabu 27 Juni 2018. Pasangan calon (paslon) walikota dan wakil walikota nomor urut 3 Genius Umar-Mardison Mahyuddin (GEMA) berdasarkan penghitungan C1 KWK secara manual berhasil mengungguli dua kandidat lainnya. Selisihnya juga cukup signifikan dengan pesaing terdekatnya yakni 5.810 suara.

GEMA berhasil mendulang 24.021 suara atau sekitar 54.67 persen, sementara pesaing terdekatnya paslon nomor urut 1 Mahyuddin-Muhammad Ridwan (MARI) berhasil meraup 18.211 suara atau 41,45 persen sementara paslon nomor urut 2 Dewi Fitria Deswati-Pabrisal (DP) harus puas dengan 1.703 suara atau sekitar 3.88 persen dengan total suara masuk mencapai 43.935 suara.

Jika dilihat kebelakang sebenarnya kemenangan paslon GEMA di pilkada kota Tabuik ini sudah banyak diprediksi. Bahkan beberapa lembaga survei pun pernah menyebut jika kedua tokoh (Genius-Mardison) ini berpasangan, maka bisa dikatakan pilkada Pariaman selesai sebelum waktunya.

Dalam ulasan ini, sebenarnya penulis hanya ingin melihat sisi lain dari pola kampanye yang diperagakan paslon nomor urut 3 tersebut. Mereka berani mendobrak gaya kampanye konservatif yang belasan tahun menjadi ciri khas kampanye para kandidat dalam setiap gelaran pilkada di Pariaman.

Jika selama ini pola kampanye setiap kandidat walikota dan wakil walikota Pariaman selalu berkampanye dengan pola mengunjungi setiap desa/kelurahan sebanyak satu atau dua kali, lalu pada kesempatan itu mereka mengumpulkan massa di satu titik dan kandidat melakukan orasi politik kepada masyarakat.

Namun, hal berbeda justru di tunjukan oleh paslon GEMA, Pertama, mereka tidak mengumpulkan warga desa/kelurahan di satu titik untuk berorasi, namun justru melakukan blusukan ke rumah-rumah warga. Menyapa dan berdiskusi kerumah-rumah warga selama 3 bulan masa kampanye yang telah di tetapkan KPU.

Sisi positifnya, memang pola kampanye blusukan yang diperagakan paslon GEMA ini bisa mendengarkan setiap curhatan atau keluhan dari setiap rumah yang ada di kota Pariaman, namun sisi negatifnya tenaga dan waktu si kandidat akan terkuras karena mereka menyambangi rumah-rumah warga untuk memastikan bertemu dan mendengar keluhan si pemilik rumah. Tak jarang juga, satu desa/kelurahan yang kandidat sambangi memakan waktu hingga berhari-hari untuk di kunjungi secara menyeluruh.

Kedua, paslon yang diusung lima partai ini juga melibatkan anak-anak muda didalam tim kampanyenya. Jika dilihat kebelakang, siapapun paslon yang pernah bertarung dalam pilkada Pariaman, paslon lebih cenderung memakai anak-anak muda “hanya” sebagai saksi atau sebagai “parami alek” saat kampanye akbar.

Paslon GEMA justru melibatkan anak-anak muda didalam tim inti kampanyenya dan anak-anak muda itu datang silih berganti ke posko pemenangan GEMA di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pariaman Tengah dengan mewakafkan diri dan melebur di bawah bendera pemuda pendukung Genius-Mardison (Penggemar).

Penggemar dalam aplikasi kerjanya, mereka mendorong pemuda dan pemilih pemula lainnya di Kota Pariaman agar tidak termasuk dalam golongan putih (golput), selain itu mereka juga mengkampanyekan paslon GEMA di tataran anak muda dengan cara bergerak secara masif di dunia nyata dan ranah sosial media.

Dua akun media sosial Penggemar yang juga penulis ikuti di Facebook dan Instagram juga memperagakan pola-pola kampanye yang sangat kekinian dan digemari oleh anak-anak zaman now. Lihat saja setiap konten-konten yang mereka letupkan di dua sosial media tersebut, mulai dari video, foto, dan captionnya pun mudah untuk diterima oleh generasi milenial.

Ketiga, penulis melihat paslon GEMA begitu berani untuk tidak memanfaatkan kampanye akbar sebagai puncak kampanye dalam rentetan “blusukan” yang telah mereka jalani selama tiga bulan terakhir. Dari tiga paslon yang ikut berkompetisi di pilkada Pariaman sebenarnya bukan paslon GEMA saja yang tidak memanfaatkan momentum kampanye akbar, pesaing terdekatnya pasangan MARI juga sama. Hanya paslon DP yang memanfaatkan momentum kampanye akbar sebagai rangkaian kampanye pamungkas sebelum memasuki minggu tenang.

Ketiga pola kampanye yang diperagakan paslon GEMA di pilkada Pariaman 2018 merupakan sebuah pembaharuan dan merupakan angin segar dalam sebuah perhelatan demokrasi di kota yang terdiri dari empat kecamatan ini. Pola-pola yang diterapkan paslon GEMA bukan tidak mungkin akan terus berevolusi dan akan mencapai titik terbaik dimasa-masa mendatang.

Akhir kata, penulis mengucapkan selamat kepada Walikota dan Wakil Walikota Pariaman terpilih periode 2018-2023 Bapak Dr. Genius Umar, S. Sos., M. SI. dan Bapak Drs. Mardison Mahyuddin, MM. Semoga amanah dan mampu membawa kota ini semakin jaya, bekembang dan maju kedepannya. (almurfi syofyan)

Berikan Komentar Dunsanak !
iklan_web
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top