Galery

Masjid Jogokariyan: Bukan Cuma Dijadikan Tempat Sholat, Tapi Juga Untuk Pembangunan Masyarakat.

oleh : Rifka Septriani, S.IP*

Masjid Jogokariyan adalah masjid yang terletak di bilangan Yogyakarta. Jogokariyan sendiri diambil dari nama kampung tempat masjid itu berdiri. Banyak dari masyarakat yang mengatakan bahwa masjid ini berbeda dari masjid-masjid kebanyakan di Indonesia bahkan dunia. Mengapa? mungkin sangat jarang kita jumpai masjid yang memberikan Umroh gratis kepada jamaahnya, atau masjid dengan jumlah jamaah sholat subuh hampir sama banyaknya dengan jumlah jamaah sholat jum’at, atau masjid yang memberikan ‘Kartu Sehat Masjid’ bagi jamaah agar dapat berobat di Rumah Sakit dan Klinik secara gratis. Ya, itu adalah sebagian aktivitas yang patut diapresiasi dari Masjid Jogokariyan.

Langkah awal yang dilakukan sebelum memakmurkan masyarakat tentunya adalah dengan memakmurkan masjid. Pada masa pembangunan masjid, tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Masjid Jogokariyan, seperti yang dilansir dari perkataan Ketua Dewan Syuro-nya Ustadz H. M. Jazir ASP, percaya dan yakin bahwa proposal yang diajukan kepada Allah akan lebih cepat dan mudah didapat daripada proposal yang diajukan kepada pemerintah. Nyatanya, selama proses pembangunan masjid ada saja infak, sadaqah, wakaf, dsb yang berdatangan dari masyarakat. Dari total dana yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid yakni 250 juta, Masjid Jogokariyan ternyata mampu mendapatkan 2,1 M dalam setahun dari bantuan dermawan manapun, bahkan dari luar daerah.

Sejak proses pembangunan sampai masjid sudah berdiri kokoh, pengurus Masjid Jogokariyan tak henti-hentinya mengajak dan menggalakkan sholat berjamaah di masjid. Mulai dari membuat undangan seperti undangan pernikahan dan diantarkan kerumah-rumah untuk mengajak sholat 5 waktu berjamaah di masjid, lalu mencantumkan free kopi susu untuk jamaah sholat subuh, mengadakan doorprize kompor gas, televisi, dll bagi yang rutin sholat berjamaah di masjid, memberikan bantuan beras bagi keluarga yang kurang mampu, dsb. Hal ini terbukti mampu membuat ramai masjid dengan kunjungan-kunjungan sholat berjamaah, bahkan pengurus masjid memasang finger print untuk mengetahui siapa saja warga yang rajin datang dan siapa yang tidak, serta apa kendalanya.

Hal ini ternyata bermanfaat untuk memetakan data warga, sehingga Masjid Jogokariyan memiliki data yang bahkan lebih lengkap dari data pemda mengenai warganya, mulai dari data keluarga yang bisa mengaji, keluarga yang bisa sholat tetapi belum berjamaah ke masjid, data KK yang sudah naik haji, yang berkurban, dsb.

Menurut Ustadz M. Jazir, bahwa prinsip manajemen masjid yang diterapkan oleh Masjid Jogokariyan ini adalah melayani, memahamkan, mensosialisasikan, dan mempertanggungjawabkan. Baginya, tugas Imam masjid itu memberikan layanan psikologis, kedekatan dengan masjid, apabila ada warga yang tidak berjamaah ke masjid maka ia akan merasakan kerinduan untuk datang ke masjid. Bagi keluarga yang belum bisa sholat atau mengaji maka akan didatangkan guru kerumahnya untuk diajari sholat dan mengaji, tanpa dipungut biaya, bahkan dikirimkan pula peci, mukena, sajadah, dan sarung bagi mereka. Masjid Jogokariyan ini juga menyediakan lumbung untuk sadaqah beras, dan menghimbau jamaahnya untuk membawa segenggam atau dua genggam beras, meskipun ada juga yang membawa sekarung, alhasil terkumpul 2,7 ton beras perbulan untuk dibagikan ke keluarga yang kurang mampu.

Bagi Ustadz M. Jazir yang merupakan ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, bukanlah suatu kebanggaan apabila ada masjid yang mengumumkan uang kas mesjidnya mencapai 20 juta, 50 juta dan sebagainya. Justru yang membanggakan itu adalah masjid yang mengumumkan kasnya sudah kosong karena membantu dan memberdayakan masyarakat sekitar. Karena masjid adalah untuk menyejahterakan masyarakat, membantu dan membangun masyarakat, mempererat silaturahmi masyarakat selain menjalin hubungan vertikal kepada Sang Pencipta.

Menara yang dibuat tinggi-tinggi disetiap masjid itu harusnya digunakan untuk memantau kondisi masyarakat sekitar, apabila ada yang kesusahan, ada kerusuhan, ada kejanggalan, dsb, bukan malah untuk simbol kemegahan masjid semata. Ustadz M. Jazir juga berkata bahwa mesjidlah yang dijadikan tempat bagi masyarakat untuk mengadu, untuk mendapatkan bantuan, bukan malah karena masjid pula jalan kita terganggu karena ada yang meminta sumbangan masjid di tengah jalan yang bisa mencelakakan keselamatan. Baginya hal itu bisa menurunkan martabat islam ditengah penilaian publik yang beragam. Padahal islam begitu bermartabat dan rahmatan lil ‘alamin. (foto :detikcom)

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas.

Berikan Komentar Dunsanak !
iklan_web
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top